Diary Hijrah 1.0
My Life My
Happines
Bro
Sis, pernah ga sih suatu hari mikirin fase apa aja yang udah kita lewatin
selama hidup? Bingung ga? oke gua contohin ya, waktu SD misalnya gua ngelewatin
fase teman sekolahku is everything. Fase
kebocahan ketika berusaha buat direkrut dalam geng geng. Takut ga ditemenin
intinya mah. Waktu SMP gua ngelewatin fase cinta
dalam diam. Fase peralihan bocah ke tahap dewasa yang lagi marak-maraknya
waktu itu terjadi, kalo zaman sekarang disebutnya bucin. (re:budak cinta). Tapi
alhamdulilahnya Allah masih menjaga diri ini, untuk ga benar- benar terjerumus
kedalamnya. Fase SMA gua ngelewatin fase organisasiku
is everything. Fase peralihan dari remaja ke dewasa dengan paradigma “peran
gue penting, gue harus disini”, fase tersulit pada zamannya yang gua rasain
ketika di satu sisi ada organisasi yang gua sama temen temen gua rintis kembali
dengan taruhan akademik yang compang camping ga keurus, sementara belom tau
bakal lanjut di jurusan apa dan dimana. Yak dari tiga fase diatas, apakah ada
yang pernah ngelewatin fase yang sama ? atau kalian punya fase sendiri, its
okey. Intinya satu, Allah ingin mendidik hamba- hambaNya yang lemah dengan
caraNya sendiri. Ya, cara yang terbaik dariNya.
Hikmah.
Pelajaran. Adalah poin penting dalam kehidupan. Kalo pendapat gua, semua orang
selalu berada di titik “menuju” dan tidak pernah sampai di titik “akhir”. Hal
ini berkaitan dengan ayat “Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sebelum
kaum itu sendiri mengubahnya” . Nah, kita ga akan sampai pada perubahan kalo
kita gagal dalam mengambil pelajaran. Maka disaat itu juga, keadaan kita ga
akan bisa lebih baik. Tapi tenang, bukankah pembelajaran itu seumur hidup? Yang
perlu kita garis bawahi adalah tidak ada kata terlambat dalam membuat
perubahan. Pilihannya, sekarang atau tidak sama sekali. Iya, karena kita
gatau seumur hidupnya kita tuh sampe
kapan. Bisa jadi beberapa tahun lagi, bulan, hari, atau bahkan beberapa menit
lagi.
Itu kenapa bro sis, diawal gua bilang kita hanya akan
menjadi makhluk yang “menuju” tapi kita ga akan mampu menggapai titik “akhir”nya
. karena umur kita ga akan sampai mencapai titik akhirnya, maka cara arif
menanggapi takdirNya adalah tetap bergerak menuju jalan – jalan yang
diridhoiNya sampai Allah matikan kita di JalanNya yang penuh hikmah.
“Hidup
Sekali, Berarti, Lalu Mati” izin minjem judul Ahmad Rifai Rifan. Ya, gua lebih
setuju dengan pandangan ini dibanding “Hidup ini Cuma Sekali, Jadi Nikmatin Aja”
. engga banget sih menurut gua. Kata “Berarti” dan kata “Nikmatin” adalah dua
kata yang membuat makna dua kalimat diatas berbeda, sedangkan akhirnya adalah
sama yaitu “mati”. Maksud gua gini Gais, pandangan dari Ahmad Rifai Rifan itu
merujuk kita kepada kebahagiaan dunia akhirat. Tapi kalo pandangan yang kedua ,
entah dari siapa. Itu seolah merujuk ke kebahagiaan dunia aja. Jadi pada
hakikatnya gua Cuma mau bilang, ayolah bahagia. Tapi bukan dengan cara ang
ngawur. Ayolah Bahagia, tapi bukan bahagia yang Cuma punya orientasi buat
dunia. Gua contohin ya, contoh orang yang orientasinya bahagia dunia akhirat
itu ketika menjadi orang yang bisa membuat orang lain bahagia adalah prinsip
hidupnya. Dia bahagia kalo ngeliat orang lain bahagia. Nah ini baru mantep nih,
bermanfaat buat orang lain, sebaik baik manusia. Sedangkan contoh pandangan
kedua, yaitu banyak menghabiskan waktu ditempat yang ga bermanfaat dan bersama
orang orang pecinta dunia.
Hampir
semua orang mungkin pernah ada di titik begitu cintanya sama dunia. Pengennya
bahagia terus. Pengennya mendapatkan apa yang diinginkan. Pengennya punya
kebahagiaan yang orang lain rasain. Intinya pengen bahagia. Ya wajar kan. Cuma
minusnya,kita suka lupa kalo sebelum kita merencanakan cara cara bahagia versi
kita, Allah udah nyiapin cara cara bahagia versiNya, dengan ending yang lebih kerenn
pastinya. Maka ketika kita berusaha menggapai kebahagiaan kita tanpa melibatkan
Allah, wajar kalo rasanya ga pernah puas dengan kebahagiaan yang pernah
didapet. Parahnya lagi kalo ngerasa “ga pernah merasa bahagia”, Nah loh.
Bro-Sis,
ketika gua nulis ini, gua Cuma berpikir satu hal. Gua pengen orang orang yang
hari ini ngerasa begitu banyak maksiat sampe Give Up buat Move Up punya
kepercayaan diri buat memantapkan hijrahnya. Percayalah, ga ada orang yang ga
pernah buat dosa. Dosa menjadi wajar ketika kita menjadikannya pembelajaran
buat langkah ke depannya. Tapi dosa menjadi hina ketika itu justru membuat
terjerumus ke dosa dosa berikutnya. Its mean, ga merasa bersalah. Pernah salah
itu wajar, karena kita memang sedang belajar. Belajar jadi hamba Allah yang
baik. Tapi kalo dengan ‘pernah salah’nya kita malah ngebuat jauh dari Allah.
Hmmm emangnya mau kembali ke mana lagi selain ke Allah? Mau menghindar dari
Allah? . kalo kita punya salah sama manusia aja, rasanya malu banget buat
ketemu sama orang itu. Kalo udah maafan pasti ada niat di hati buat ga
ngelakuin hal yang sama karena takut orangnya marah lagi. So, emang ga takut
Allah marah? Emang mau ngehindar dari Allah sampe kapan dan kemana? Padahal
Allah lebih dekat daripada urat nadi. Ya jadi, apa masih ada alasan buat ga minta
maaf sama Allah sesegera mungkin. Taubat dan janji akan berusaha ga melakukan
dosa dosa yang dulu pernah kita lakuin. Bisa Guys. Bisa. Pasti Bisa. Kalo kita
minta maaf ke Allah, insya Allah dimaafin . kan Allah Maha Pemaaf yah J
Sebagai
penutup di bab ini, gua mau bilang hidup adalah cara mendapat kebahagiaan dunia
akhirat. Kebahagiaan yang bisa kita raih kalo kita PEDE buat ngeraih
kebahagiaan itu dan melibatkan Allah dalam setiap usaha untuk meraihnya.
Se-simpel ketika kita mau dapet IP 3,5, maka raihlah angka itu dengan ikhtiar
maksimal dan doa yang maksimal pula serta niatkan agar IP itu bisa bermanfaat.
Ga sekedar buat dapet pujian. Orang orang yang hari ini mungkin terlihat baik,
bukan orang orang yang ga pernah berbuat dosa dari lahir sampe hari ini. Tapi
adalah orang yang semangat buat belajar dan ga malu sama kesalahannya, karena
menjadikan kesalahannya sebagai bahan belajar untuk jadi hamba yang lebih
baik.Ohiya satu lagi, gua nulis ini bukan berarti gua ngerasa gua udah selesai
dengan semua urusan atau kesalahan, justru apa yang gua tulis disini adalah
nasihat dan pengingat buat gua sendiri sebelum buat orang lain. Gini gais, gua
yang banyak maksiatnya aja, Allah izinkan hari ini menghirup nafas keimanan.
Apalagi BroSis, yang bisa jadi dosa nya ga sebanyak gua. Semoga istighfar
menjadi peneman tuk meraih ridhoNya. Salam Move UP.

Top abiss
ReplyDeleteSiapp Sist
ReplyDelete