Jangan Terluka
Kenapa semesta tidak bilang sejak awal,
Bahwa dunia lebih sering tak ramah
Aku yang menghidupi ekspektasiku sendiri,
Tanpa ada yang benar benar peduli
Aku ingin menyerah. Ingin sekali.
Tapi rasa takut lebih besar.
Rasa takut bahwa yang lain juga merasa benar untuk menyerah
Memang terdengar egois,
Ingin meninggalkan arena juang dan berharap perjuangan tetap berlangsung seharusnya
Aku sedang babak belur,
Sedang lebam membiru.
Aku baru sadar,
Ia yang sudah kupaksa puluhan kali untuk baik baik saja
Jangan Terluka. Jangan jatuh.
Padahal aku sendiri yang menyaksikannya
Saat malam senyap
Saat aku bisa berdua saja dengannya
Ia seolah mengatakan sejujurnya,
Ia lemah. Ia sakit. Ia terluka. Ia.. tak sanggup bangkit lagi.
Maka aku biarkan ia menangis sejadi jadinya,
Ditemani temaram bulan atau rintik sesekali
Air matanya terus turun seperti tak henti
Bahkan terkadang untuk alasan yang tak bisa ia pahami sendiri
Seperti lelah sekali, seperti air mata yang sudah dibendung seharian.
Maka aku biarkan ia sejenak meletakkan bebannya
Menemaninya terlelap dalam tidur
Melupakan dunia dan lukanya
Meski lukanya tak pernah benar benar sembuh
Satu satunya cara untuk tidak terluka hanyalah pura pura.
Lalu esoknya, fajar menyingsing, membangunkan.
Seolah membawa harapan baru
Padahal rasanya sama saja
Ia kupaksa lagi untuk kesekian kalinya
Jangan Terluka. Diriku.
Such a great letters!
ReplyDelete