Menulis
Saat menulis ini umur aku 23 Tahun 9 hari. Angka yang ga pernah aku pikirkan untuk bisa sampai di bilangan itu. Rasanya menjadi remaja seperti siklus yang sampai akhir, tapi ternyata engga. Suka tidak suka, dewasa itu pasti datang. Hingga kedatangannya memberi nasihat bahwa tidak bisa lagi berlindung dibalik kata "mencari jati diri". Menjadi dewasa seserius itu sungguh.
Aku tumbuh ditengah kondisi yang tak bisa dijelaskan pada siapapun. Aku tumbuh dengan begitu banyak kata maaf dan gapapa pada diri sendiri untuk membantuku melanjutkan hari. Aku beberapa kali memutuskan untuk menemui ahli Jiwa, sungguh kukira takdir yang satu ini becanda. Tapi tidak. Aku beberapa kali ingin membunuh diriku. Menghentikan penderitaannya. Ah.. Kau tau kufur nikmat bisa sebegitu mengerikannya.
Aku tumbuh perlahan dari setiap kejadian itu, memeluk erat setiap trauma dan tangisan di ujung malam. Hingga pagi datang dan aku kembali membuat orang tertawa. Mereka merasa mengenalku, bahkan pernah seseorang berkata "Enak ya jadi kamu, hidupnya gaada masalah". What?? Sebentar. Ah sudahlah.
Aku mencintai tulisan, kata dan overthingking saat sunyi. Walaupun terkadang overthingking sering terasa membunuhku pelan pelan. Meredam semua asa di pagi hariku. Tapi dengan pikiran yang sibuk itu, aku memutuskan menulis. Menemui kata kata yang tak bisa kuungkap pada yang lain. Tulisan memberikan aku kabar, bahwa masih ada yang bisa menerimaku. Dengan segala kisah pilu dan bahagia. Sepanjang apapun yang ingin kuceritakan. Aku punya banyak teman, tapi jujur aku tak pernah 100% mempercayai siapapun. Aku tak pernah yakin ada orang yang benar benar sepeduli itu pada hidupku. Satu satunya yang masih mau peduli, adalah aku. Dan kata.
Aku ingin berterima kasih pada sosok yang mengenalkanku pada tulisan. Entah seperti apa dia sekarang, dimana dan bagaimana. Bukan itu lagi yang ingin kucari tau tentangnya. Aku menerimanya sebagai bagian dari masa laluku. Dan aku berterima kasih pada kehadirannya.
Dia, laki laki yang hitam manis (dulu) dengan basket dan lantunan Qurannya. Pernah beberapa tahun menawan hati ini. Saat itu, aku punya banyak kata yang ingin kusampaikan tapi tak pernah sampai. Aku hanya menulisnya dan terus menulisnya. Hingga sehari bisa kuhasilkan beberapa tulisan yang tak sampai.
Sejak saat itu, aku terbiasa menggunakan kata. Jika kuhitung mungkin ini adalah tahun ke sepuluh sejak peristiwa itu dimulai. Tahun ke sepuluh aku memutuskan berteman dengan kata. Rasa itu tak lagi bersisa sejak lama, tapi kebiasaanku menuliskan angin, hujan, senja dan pagi tak pernah kulepaskan.
Dengan menulis, aku mendapat buku pertamaku. Dengan menulis, aku mendapat beberapa apresiasi lainnya. Yap, menulis menjadi bagian dari masa depanku. Saat ini, aku tak tau bagaimana esok akan kumulai. Tapi mungkin aku bisa kembali pada kata, menghindari extrovert world dengan segala kebisingan dan mungkin kepuraan.
Disini, di halaman ini. Aku mencintai diriku sendiri.
Comments
Post a Comment