Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah (Adapted Title)
Kamu tahu apa definisi menyerah sesungguhnya?
Saat doa doa bisa begitu menyakitkan, saat hati begitu sempit, saat syukur begitu berat. Manusia memang ulungnya membuat banyak skenario seolah paling tersakiti. Padahal, bukankah ujian adalah sebuah kepastian bagi setiap insan bernyawa?
Jika merasa cukup saat diberikan kecukupan Harta, tentu mudah.
Jika mampu bersabar saat diberikan pencapaian, tentu mudah.
Jika mampu bersyukur saat diberikan segala keinginan, tentu mudah.
Ah, tapi hidup tidak tercipta untuk itu bukan?
Sungguh, menyerah itu adalah sebuah kemungkinan. Menyakiti diri pernah hampir kulakukan. Meski, saat itu tentu gamang didepan mata apa yang terjadi selanjutnya. Sungguh, ternyata manusia memang begitu lemah.
Kamu tahu, bahwa Rasulullah pernah hampir memilih menjatuhkan diri dari bukit disaat rasa ketakutan menyelimutinya kalau kalau Allah meninggalkannya?
Kamu tahu, bunda Maryam pernah berharap bahwa ia mati saja dan tidak pernah dikenal karena kekhawatiran menyelimutinya sebagai konsekuensi ujian ketakwaan yang begitu perih dan mustahil bagi seorang perempuan?
Merekalah, manusia manusia langit. Tapi ternyata pernah ingin begitu menyerah juga. Walaupun bisa kamu bandingkan, ketakutannya adalah ketakutan yang sangat wajar dan level tinggi. Bukan seperti kita kan..
Tapi ternyata, iman memang harus menerabas segala keraguan. Iman memang harus mematahkan segala kekecewaan. Iman memang harus ditebus dengan luka luka. Iman memang sebegitu mahal ditukar dengan segala suka duka yang kita miliki.
Allah tentu Maha Tahu apa yang hambaNya rasakan. Allah tentu Maha Teliti tentang apa yang HambaNya mampu. Oleh sebab itu, Allah pilihkan ujian khusus bagi setiap HambaNya. Apakah kita mengira Allah yang Maha besar, pemilik langit bumi dan seisinya tak mampu menyelesaikan persoalan kita? Tentu salah besar. Allah Maha Mampu. Allah ingin melihat sejauh mana HambaNya memilihNya ditengah rasa gusar, gelisah, patah, bahkan roboh. Sekalipun kaki bahkan tak mampu lagi berdiri menopang badai yang menerpa. Tapi Allah rasanya ingin melihat, manakah yang HambaNya pilih? Iman ataukah menyerah dan putus asa?
"... Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir" (Q. S. Yusuf:87)
Comments
Post a Comment